Rabu, 23 Oktober 2019.

Beberapa hari terakhir kabut asap pekat kembali melanda Kota Palembang, Sumatera Selatan. Padahal, dua pekan lalu lahan seluas 5.200 hektar milik delapan perusahaan disegel KLHK [Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan], sejumlah pelaku pembakaran pun ditangkap dan ditahan.

Palembang juga sesekali diguyur hujan. Lalu, mengapa kabut asap masih ada? dikutip dari hasil wawancara Dr. Zulfikhar, pakar gambut dari World Agroforestry [ICRAF] dalam  www.mongabay.co.id beberapa penyebab masih terjadi kebakaran hutan dan lahan sehingga masih menimbulkan kabut asap adalah pertama, pemerintah dan tim ad hoc yang menangani persoalan ini tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi di lapangan. Mereka tahunya kalau ‘sudah terbakar dan berasap’.

“Buktinya, satu minggu setelah api padam karena hujan, kebakaran dan asap muncul lagi,” katanya, Selasa [15/10/2019].

Kedua, orientasi pemerintah dan tim ad hoc adalah memadamkan kebakaran, masih sangat sedikit upaya pencegahan. Ketiga, harus mengindentifikasi penyebab, pelaku dan lokasi awal dan akhir api.

Keempat, jangan berasumsi bahwa pasukan brigade kebakaran yang ada, baik di darat maupun udara mampu mengatasi, menghentikan, dan memadamkan kebakaran. “Kejadian kebakaran jauh lebih besar dari kemampuan pasukan yang ada.”

Dalam upaya penanggulangan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan 2019 Forum DAS telah beberapa kali melakukan aksi limas dibeberapa titik lampu merah dan sekolahan di Kota Palembang. Dan untuk lanjutan aksi limas, Paguyuban Sinar Mas Sumsel memberikan bantuan kembali berupa masker sekali pakai, susu dan obat tetes mata yang akan dibagikan kembali kepada pengguna jalan di Kota Palembang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here