Tumbuhan purun tidak hanya sebatas menjadi tikar, namun juga dapat dijadikan berbagai macam buah tangan berbasis lokal dan ramah lingkungan seperti peci, wadah tisu, tas dan lain sebagainya. Tidak hanya itu saja, pemanfaatan tumbuhan purun ternyata juga berdampak baik bagi kelestarian lingkungan karena dinilai bisa mengurangi risiko terjadinya kebakaran.

Ketua Gabungan Pengusahan Kelapa Sawit (GAPKI) Sumatera Selatan, Harry Hartanto ditemui dalam acara pembukaan Gelar Tenun Songket dan Batik Nusantara 2018 di Palembang Indah Mall (PIM), Rabu tanggal 15 Agustus 2018, mengatakan bahwa pemberdayaan berbagai kerajinan dari purun harus tetap dilestarikan di zaman modern seperti ini. Menurutnya, penggunaan bahan plastik membuat berbagai kerajinan lokal dengan bahan yang ramah lingkungan telah ditinggalkan masyarakat. Penggunaan berbagai hasil kerajinan berbahan purun kembali digunakan masyaraka sebagai peralatan sehari-hari. Sebab, penggunaan produk purun sama saja halnya kita berpartisipasi mencegah kebakaran di Sumsel.

Menggandeng Laskar Muda Forum DAS Provinsi Sumatera Selatan, Harry berencana akan memperbanyak produk berbahan purun untuk menjadikannya karya yang bisa digunakan untuk sehari-hari secara massal. Saat ini, produksi purun menjadi berbagai produk seperti dompet, wadah sendok, tas laptop, peci, tempat tisu, topi, miniatur ampera, tikar dan tanjak. Menurutnya, kalau tidak digunakan, purun akan menjadi semak belukar dan rawan terjadi kebakaran. Jika dimanfaatkan, maka akan menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi. Untuk harga produk berbahan dasar purun memang terbilang masih tinggi, karena belum dipoduksi secara massal yang dapat meneken harga. Tidak hanya itu, dengan diberikannya sentuhan modern dan diproduksi dalam jumlah banyak akan menjadikan produk berbahan dasar purun bisa dinikmati masyarakat dan diterima di kalangan anak muda yang serba modern seperti saat ini.

Sementara itu, Sekretaris Laskar Muda Forum DAS Sumsel, Rima Mara Syuga, mengatakan bahwa produk berbagan dasar purun yang sudah disulap menjadi berbagai produk pakai sehari-hari ini dijual dengan harga mulai dari Rp. 30.000 – Rp. 150.000. Produk berbahan dasar purun ini diproduksi oleh Laskar Muda sendiri, mengingat memang Laskar Muda sudah dikenal sebagai Pejuang daur ulang sampah yang dapat merubah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai seni dan nilai ekonomi. Untuk pemasarannya selain mengikuti event-even tertentu laskar muda juga sudah mulai mengembangkan sayapnya ke dunia jual-beli online. Display barang-barang kerajinan dari Laskar Muda yang lain dapat dilihat lebih banyak di Fanpage Facebook Fordasmart.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here