Tim Restorasi Gambut (TRG) terus berupaya untuk melakukan restorasi bentang lahan di Provinsi Sumatera Selatan yang berkelanjutan. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan RESTORE+ yang di konsorsium oleh World Agroforestry Center (ICRAF), WRI Indonesia, WWF Indonesia dan diprakarsai oleh International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA). Acara ini diselenggarakan selama 2 hari, 19-20 April 2018 di Hotel Emilia Palembang.

Najib Asmani selaku Pimpinan Dewan Pertumbuhan Hijau dan Koordinator Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Provinsi Sumatera Selatan menjelaskan bahwa restorasi bentang lahan adalah sebuah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi danmeningkatkan kesejahteraan manusia yang berada pada lahan yang mengalami deforestasi dan degradasi. Restorasi berkaitan erat dengan berbagai kebijakan nasional terkait perubahan iklim danpembangunan berkelanjutan. Pada tingkat global, komitmen untuk melakukan restorasi terwujud dalam kerangka Bonn Challenge sebagai tantangan global untuk merestorasi 150 juta hutan dan lahan terderadasi sebelum tahun 2020.

Di Sumatera Selatan restorasi hutan dan bentang lahan merupakan bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi hijau yang sudah dicanangkan melalui Peraturan Gubernur Sumatera Selatan NO. 21/2017 tentang Rencana Induk Pertumbuhan Ekonomi Hijau Provinsi Sumatera Selatan. Selain itu kegiatan RESTORE+ menghubungkan pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan restorasi di tingkat tapak dengan kajian ilmiah yang dapat berkontribusi pada proses perumusan kebijakan di tingkat nasional dan global. Untuk mencapai tujuan tersebut, informasi dari kegiatan di tingkat tapak yang bersifat partisipatif, namun terpisah dihimpun dengan menggunakan pendekatan urun daya (crowdsourcing).

Menurut salah satu peniliti dari ICRAF, Andree Ekadinata menyampaikan, pendekatan urun daya ini bermaksud menginintisarikan aspirasi masyarakat luas dan pemangku kepentingan serta berkontribusi untuk pemantauan dan evaluasi. Nantinya informasi yang didapatkan akan digunakan dalam melakukan kajian ilmiah pemodelan kebijakan restorasi. Kajian terkait diharapkan menghasilkan berbagai skenario kebijakan restorasi yang mempertimbangkan dampak lintas sektor seperti kesejahteraan masyarakat setempat, pembangunan ekonomi. Ketahanan pangan, penyediaan energi dan perlindungan keanekaragaman hayati.

Dalam acara lokakarya pada hari pertama, Ketua Forum DAS Sumsel hadir sebagai moderator dalam sesi ke-2 tentang Pengalaman dan Pembelajaran Upaya Restorasi Hutan dan Bentang lahan. Dalam sesi ke dua ini hadir juga sebagai narasumber antara lain adalah Bastoni, M.Si dari BP2LHK; Dr. Zulfikar dari PT. Global Alam Lestari; Ir. Urip Wiharjo dari PT.KEN; Dr. Satrio Wicaksono; serta David Adrian dari ZSL-Kelola Sendang. Sedangkan pada hari kedua, Jumat 20 Apri 2018, acara difokuskan dengan diskusi kelompok tentang Potensi Urun Daya untuk pengumpulan data dan beberapa bentuk urun daya : urun daya untuk khalayak luas dan urun daya terbatas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here